
Suasana Malam Hari bawah fly over
Hari ini Jumat 5 desember fly over cikarang diresmikan oleh menteri PU Djoko Kirmanto. Sebenarnya jalan layang ini sudah dioperasikan semenjak 4 bulan yang lalu, walau belum diresmikan.
Sebetulnya, terbangunnya fly over yang letaknya pas di pertigaan mulut tol Cikarang Barat KM 31 dikarenakan memang sudah tingginya volume kendaraan, antara arah yang ke Cikarang, ke Cibarusah, dan keluar-masuk Tol, sehingga sudah menjadi suatu kebutuhan untuk dibangun. Kalau sebelumnya ketika mau masuk tol dari cikarang, langsung belok kanan sekarang harus lurus dulu muter di bawah kolong jembatan Cikarang-Cibarusah, sedangkan kalau dari Lippo mau ke Cikarang bisa langsung naik lewat fly over ini, dan sebaliknya yang dari Cikarang ke arah Lippo tetap lewat bawah seperti biasa. Hal yang masih disayangkan putaran di bawah kolong jembatan tersebut serasa masih terlalu tinggi, dimana setelah putaran balik dengan haluan sempit dan naik masih dijumpai truk terguling dikarenakan tidak seimbangnya speed yang masih tinggi dengan putaran dan berat muatan, termasuk sore tadi terlihat ada truk trailer yang terguling juga. Semoga ada trafik/peraturan sendiri untuk jenis trailer/long vehicle bermuatan, sehingga pengemudinya tidak mengalami hal tersebut di atas. (kejadian truk terguling kadang juga dijumpai di bundaran plaza JB semenjak terjadi perubahan arah lalu lintas lho). Sepertinya juga perlu lampu lalu lintas dimana timer lampu sudah mengalami simulasi data jumlah trafik di jam-jam tertentu, jadi bukan fixed time.
Kembali lagi, Fly over ini benar2 lumayan mengurangi kemacetan yang terjadi di sekitar pertigaan pintu tol tersebut, terutama di jam-jam sibuk. Biasa, kalau berangkat kerja ya jam-jamnya juga sama, ditambah ada yang ganti shift juga sama-sama, well komplit dah. Akan tetapi tetap saja, kemacetan akan terjadi jika volume kendaraan bertambah terus, sementara jalannya ya itu-itu saja. Iklan di TV untuk berhemat energi sepertinya juga tidak akan begitu “ngefek”, seperti halnya jalan kaki atau naik sepeda (kerennya sekarang: bike to work). Mana ada orang mau begitu, di kota Jakarta (BoDeTaBek) bukan biaya hidup yang tinggi, akan tetapi biaya kelakuan sebenarnya yang begitu tinggi. Mobil sudah seperti tuntutan pokok apalagi motor, HP harus yg layar sentuh/touch screen, itu loh yg ditutul pakai kayak pulpen (stylush) padahal ya gitu-gitu saja. Gak ada yang salah memang, cuma mbok ya kita ini hidup sederhana sajalah, gak usah banyak gengsi (“yg biasa ngomong kayak gene neh pengamen di bus kota”), toh juga gak dibui. Betul tidak??


