22
Dec
08

Warok-warok itu…

warok-cilik1

Warok-warok cilik

“Pendadaran Kawiwitan”, ya kurang lebih begitu awalan ketika tarian reog [baca: reyog] dimulai, kalau melihat pada vcd yang saya dapat dari copyan punya adik. Terlepas dari bajakan atau tidaknya vcd tersebut, tidak mengurangi minat terhadap kesenian reog sendiri. Orang bukan asli Ponorogo saja senang, apalagi yang asli Ponorogo.

Grebeg Suro 2008 sedang digelar Pemkab Ponorogo saat ini, dimana didalamnya terdapat salah satu acara yang paling populer, yakni Festival Reog Nasional. Disebut paling populer karena dibanding acara yang lain semisal Kirab Pusaka, Larung Doa Sesaji, Pameran Bunga, dan Kakang Senduk, festival Reog ini yang paling banyak penontonnya. Ya wajarlah kalau populer, kelasnya sudah bisa mempopulerkan negara, malahan dengan Reog ini otomatis nama Ponorogo ikut terangkat di dalamnya. Lha memang aslinya dari sini, jadi ikut kebawa :) .

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengangkat Nama Ponorogo lebih terkenal lagi selain dengan Reog ini, dengan berbagai potensi yang dimiliki layak jual kepada umum, dalam hal ini masyarakat biasapun bisa melakukannya. Merk Ponorogo ini biasa dibawa oleh Orang Ponorogo atau paling tidak, pernah di Ponorogo kemudian aktif/tinggal di tempat lain, di luar Ponorogo tentunya. Nah yang bisa dibawa keluar sebagai contoh kuliner sate ayam, pecel, dawet, jenang dan accessories. Adapun tempat/lokasi, kurang bisa dibawa oleh masyarakat biasa, dalam hal ini harus melalui promo, entah mulut ke mulut, web, travel dan lain-lain, atau istilahnya terbatas.

Sate Ayam Ponorogo

Menyoal masalah kuliner, Sate Ayam “Pak Tukri” di Jalan Lawu sudah sangat terkenal sekali di Indonesia, terbukti secara tidak sengaja ketika saya di Bontang Kalimantan Timur mendapati penjual sate ayam Ponorogo. Sambil sedikit perkenalan dan ngobrol ngalor ngidul akhirnya diperoleh info kalau memang sebelumnya memang pernah magang di tempat Pak Tukri di Jl Lawu tersebut, dan kebetulan juga di tempat saya tinggal (Cikarang), ada orang Babadan Ponorogo yang jualan Nasi Pecel dan Sate juga mengikutkan orangnya training dulu di tempat Pak Tukri (minimal mengerti resepnya). Bisa jadi di tempat lain malah sudah menyebar secara gepok tular (ilmu berkembang sendirinya, masalah hak cipta mengkhawatirkan). Kemudian masalah Pecel Ponorogo, untuk Pecel ini ternyata masih kalah sedikit pamornya dengan Pecel Madiun, walau rasa juga tidak jauh berbeda. Mungkin masalah ‘how to sell’ saja, dalam hal ini entah nama produk yang diangkat Pecel Ponorogo ataukah Pecel Madiun, tergantung sense/rasa yang punya ‘warung’ saja. Terus untuk dawet ‘Jabung’ dan jenang ‘Mirah’ sepertinya masih menjadi merk lokal. Selain karena memang di tempat lain daerah juga memiliki, semisal dawet bumiayu, dawet “bla-bla”, dan jenang/dodol garut dengan berbagai bahan olahan. Jadi masih sulit untuk menjual, atau gampangnya orang Ponorogo sendiri masih mikir-mikir untuk menjual di luar Ponorogo “layak jual gak sih?”, mungkin seperti itu pemikirannya. Menanamkan mindset itu sulit lho.

Berikutnya mencoba mengupas masalah potensi wisata daerah. Danau Ngebel yang paling banyak digembar-gemborkan ternyata masih kalah terkenal dengan danau tetangga sebelah “Danau Sarangan”. Kenapa bisa? Apa karena masyarakat Ponorogo lebih sedikit? Sepertinya juga bukan, walau kebanyakan pengunjung danau/telaga tersebut orang lokal. Lha terus kenapa? Nha ini sebenarnya jawaban yang harus dicari bersama. Pasang informasi di web, nulis di blog sana-sini bagaikan iklan, posting gambar dengan sudut pandang bagus, sepertinya kurang memberikan efek (“ya sudah biar enak, memberikan efek sih, tapi sedikit:) ). Sebenarnya hal seperti ini membutuhkan aksi nyata. Sebagai contoh, daerah wisata di Bandung, lebih terekpos dikarenakan orang Jakarta memang ada yang mengajak kesana, semisal ada acara keluarga, meeting kantor, bahkan gathering/piknik juga dibawa kesana. Secara tidak langsung, dengan mengajak orang lain dan kebetulan lain daerah bisa masuk untuk melihat dan menikmati akan menjadi promo yang efektif. Nah ini bagi teman-teman yang kebetulan seperti ini bagus sekali, masalahnya biaya akomodasi. Kalau kantor mungkin di Madiun sih mungkin masih relistis, kalau yang lebih jauh lagi bagaimana? Memang semua tergantung biaya dan apresiasi terhadap objek wisata dari orang luar Ponorogo yang sangat diharapkan (orang ponorogo sudah tahu). Sayang, hal seperti ini erat kaitannya dengan perbedaan pertumbuhan ekonomi kota besar dengan kota kecil, walhasil tingkat urbanisasi juga tinggi. (saya masuk dalam hitungan ini) :)

Kalau orang yang datang orang jauh, tentunya menginginkan fasilitas untuk menginap, bukan sekedar datang dan pergi “capek di jalan”. Apakah fasilitas seperti ini ada di sekitar tempat wisata? Masak harus menginap di rumah penduduk sekitar, atau harus ke pusat kota untuk menginap. Dalam hal ini, diharapkan peran serta masyarakat sekitar untuk ikut melestarikan objek wisata daerahnya dan fasilitas tentunya. Tidak menutup daerah lain semisal Sirah Keteng, Bulus, Kucur, Pringgitan, dan lain-lain.

Kaitannya dengan gambar diatas, ketika kecil menarikan reog atau menggunakan pakaian mirip warok adalah sebagai kebanggaan atau kebahagiaan tersendiri, sudah seyogyanya semakin dewasa bisa ditambah hal lain, jiwa-jiwa warok (putera puteri) yang membangun Ponorogo. Jangan sampai Ponorogo terkenal karena kasus kejahatan, korupsi atau hal-hal yang bersifat negatif. Mungkin bagi yang masih sekolah juara lomba tingkat Karesidenan saja sudah ‘wuih’ sedemikian hebatnya, apalagi propinsi bahkan internasional. Sesungguhnya jiwa-jiwa seperti itu yang harus dipupuk dan digalakkan, jiwa-jiwa warok yang bisa membangun dan mengharumkan nama Ponorogo. Reog sudah terkenal, apa harus Ponorogo dikenal hanya karena reog saja? Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan? Mari, kita bangun bersama Ponorogo, dengan segala hal positif minimal dengan gambaran ide seperti di atas, syukur jika bisa mengajak investor masuk Ponorogo. Salam damai.

About these ads

4 Responses to “Warok-warok itu…”


  1. April 21, 2009 at 7:50 am

    Ponorogo is my country
    hmm..

  2. October 29, 2009 at 11:57 pm

    Ponorogo dan tradisinya it’s beautifulllllll……

  3. 3 pardi
    August 29, 2010 at 10:29 pm

    salam kenal kang… podo wong Ponorogo kie…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Didukung Oleh

Herbal Cikarang Pengolahan Data Busana Muslim Undangan Souvenir Cikarang

Man Behind this blog

Ganteng euy

Blogger Cikarang

Blogger Cikarang

Statistic Pengunjung

  • 102,041 hits

Trafik Pengunjung

Popularity

My Popularity (by popuri.us)

RSS VOA Islam News

My Messenger


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: