15
Dec
08

Grebeg Suro: Antara eksistensi dan pengakuan

Lagi Show

Pentulan "in action"

Sebentar lagi liburan panjang akhir tahun, mulai Natal, Tahun Baru Hijriah (Muharam) kemudian tahun baru 2009. Nah ini bagi teman-teman yang mungkin bingung liburan cuti mau kemana, ini saya kasih info alternatif tujuan liburan, yakni ke Ponorogo Jawa Timur. Kenapa Ponorogo? Ya karena di Ponorogo sekarang lagi ada hajatan yang namanya Grebeg Suro 2008. Tidak usah khawatir mau nginap dimana, disana juga ada losmen dan hotel. Apa hanya Grebeg Suro saja? Tentu tidak, masih ada objek wisata daerah, kuliner, keramahtamahan kota, ataupun ciri khas lainnya, kalau sudah disana, tanya saja orang Ponorogo sana, pasti dikasih tahu. Mau gunung/bukit ada, danau exotis “Ngebel” ada, hutan ada, makanan/ jajanan kuliner juga ada, asal bukan ditanya ada pantai atau tidak. Bagaimana ada pantai, Ponorogo khan bukan di tepi laut?

Sebagai putera daerah tentunya ingin mempunyai sumbangsih terhadap daerah asalnya, tidak terkecuali saya, walau sedikit lewat tulisan ini, setidaknya saya bisa membantu promosi wisata daerah Ponorogo, dimana kebetulan sekarang berlangsung event tahunan yakni Grebeg Suro 2008. Grebeg Suro ini merupakan bungkus dari serangkaian acara di Ponorogo setiap menjelang pergantian tahun Hijriah (Jawa: Suro). Rangkaian acara bisa dilihat di web Pemkab Ponorogo. Seingat saya dulu, di tahun 80-an acara ini belum ada, paling-paling setiap malam tahun baru muharram tersebut masyarakat pada umumnya berjaga semalam suntuk tidak tidur sampai pagi “istilah kerennya melekan” sambil jalan kesana kemari dan sebagai tujuan biasanya aloon-aloon kabupaten, dimana di aloon-aloon tersebut terdapat pasar malam. Kalau masih muda pasti senang kesini karena bisa jadi pasar senggol, kalau yang sudah sepuh (tua) biasa di rumah, tidak lebih sebagai perwujudan tirakat/prihatin menjelang pergantian tahun. Kemudian kira-kira masa pemerintahan Bupati Soebarkah tahun 90-an Pemkab Ponorogo menangkap potensi wisata ini, dan ditambah acara-acara yang lain semacam kirab pusaka, larung doa sesaji, dan pemilihan kakang-senduk, jadilah acara namanya Grebeg Suro sampai sekarang. Kalau orang Ponorogo biasanya kalau belum ke aloon-aloon rasanya seperti belum pulang (“Katanya lho, atau perasaanku saja ya?”)🙂 .

Nama Ponorogo pasti identik dengan Reog [baca: reyog] dimanapun (kadang ada yang menulis reyog mungkin karena wujud persengauan huruf e dan o). Nah di Grebeg Suro ini ada juga Festival Reog Nasional, tidak main-main, tiap hari mulai tanggal 24/12/08 sampai 27/12/08 pentas dari jam 2 siang sampai jam 10 malam. Kalau menyebut Nasional, peserta festival ini tentunya berisi paguyuban reog di Indonesia dari mana saja. Bisa dari Sumatera, Kalimantan, Irian dan darimana saja boleh ikut, bahkan kalau mau dari luar negeri mau ikut, dipersilakan “Monggo”, walau sifatnya Nasional bukan berarti membatasi. Syukur jika ada dari Luar Negeri bisa ikut, sehingga bisa menjadi ajang Internasional. Terlepas dari ada atau tidaknya Luar Negeri, paling tidak bisa menjadi jawaban dari kekisruhan berita beberapa waktu lalu dengan negara tetangga.

Jajar Jatilan

Jajar Jatilan

Kalau menulis reog, tentunya tidak enak kalau tidak cerita sedikit mengenai sejarah reog ini. Pada awal mulanya (versi lama) reog ini sebagai perwujudan dari rasa memberontak Ki Ageng Kutu terhadap Bhre Kertabumi (Raja Majapahit saat itu). Pemberontakan ini, “wah rasanya tidak pas kalau menulis pemberontakan, lebih baik protes saja nulisnya“. Protes Ki Ageng Kutu ini diwujudkan dengan sindiran dalam bentuk tari reog ini, yakni tarian pentulan (topeng merah) sebagai Ki Ageng Kutu, Jaranan yang gemulai sebagai Prajurit Majapahit dan Barongan singa sebagai Bhre Kertabumi. Nah wujud dan tarian reog yang sekarang ini, karena perkembangan sejarah, terjadi asimilasi (versi cerita baru), yakni adanya warok dan Prabu Klana Sewandana, termasuk di paruh merak ada kalung, dikarenakan sejarah adanya cerita proses melamar putri kediri Dewi Songgo Langit (sekarang jadi Nama Pasar pengganti nama Pasar Legi) oleh Prabu Klana Sewandana dengan barisan waroknya kemudian dihadang Raja Singa Barong. Mengenai fisik di paruh merak adanya kalung (tasbih) sebagai simbol syiar penyebaran agama Islam waktu itu oleh Ki Ageng Mirah di Ponorogo pada masa Batoro Katong. Ya namanya cerita singkat, kurang lebih begitu ceritanya. Lebih detail bisa anda baca di wikipedia. Seingat saya di buku ‘Babad Ponorogo’ ada sedikit mengulas sejarah reog tersebut, juga menceritakan mulai sejarah dari kota lama sampai kota kabupaten sekarang, cerita belik bacin, cerita nggolan, dan ramalan akan kembali ke kota lama lagi, tapi tidak tahu buku itu sekarang kemana..😦

Seiring dengan digelarnya Grebeg Suro 2008 tersebut, sama seperti halnya ketika Gong/gamelan reog ditabuh memiliki 3 nilai di dalamnya, yakni wiraga, wirama, dan wirasa. Wiraga (menjiwai) dimana setiap pagelaran reog semua pemain paguyuban dan penonton merasa menjiwai ikut di dalamnya, begitupun kita dimanapun berada dalam berkarya ataupun bekerja menjiwai sehingga disetiap karya ada hasilnya. Wirama (berirama) dalam hal ini ketika reog digelar ada iramanya sampai penontonpun ikut hanyut oleh irama tersebut, begitupun kita dimanapun dalam berkarya memiliki irama/cara/krama/etika sendiri. Yang terakhir wirasa, semua ikut merasakan, baik pemain paguyuban reog ataupun penonton, begitupun kita dimanapun berada tetap merasa sebagai satu kesatuan (Indonesia). Begitu pula saya, sekalipun sekarang tidak tinggal disana, masih memiliki wiraga, wirama, dan wirasa juga, yakni sebagai “Orang Ponorogo“.


7 Responses to “Grebeg Suro: Antara eksistensi dan pengakuan”


  1. December 15, 2008 at 4:20 pm

    mari lestarikan budaya bangsa🙂

    => mari, sama-sama

  2. 2 meylya
    December 16, 2008 at 1:45 am

    reyog ponorogo memang top

    ==> top, saking topnya pada pengin bajak.

  3. December 16, 2008 at 1:37 pm

    wah… webmu bagus bgt to! kalah neh aq.. hehe..
    salam kenal juga ya..
    mari kita bersama-sama menjaga warisan budaya bangsa kita.
    salam damai indonesia
    dz4ki.blogspot.com

    ==> trims commentnya, tergantung theme yang dipakai saja. Mari Bung..

  4. 4 vix
    December 17, 2008 at 4:56 pm

    Wah sejarah nya salah tu boz…coba di klarifikasi ulang…
    reog tu hubungannya ma kerajaan kediri, Klono sewandono mo melamar dewi songgolangit..

    ==>Ya ntar coba saya klarifikasi, paling tidak kl salah, ada yg protes berarti ada perhatian ya?…:) mungkin tinggal edit sedikit.

  5. September 4, 2010 at 7:48 am

    masih menjadi perdebatan menarik antara kata Reyog dan Reog….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Didukung Oleh

Herbal Cikarang Pengolahan Data Busana Muslim Undangan Souvenir Cikarang

Man Behind this blog

Ganteng euy

Blogger Cikarang

Blogger Cikarang

Statistic Pengunjung

  • 143,273 hits

Trafik Pengunjung

Popularity

My Popularity (by popuri.us)

RSS VOA Islam News

My Messenger


%d bloggers like this: