13
Jul
09

Taman Buaya, sebagai alternatif wisata

Taman Buaya

Taman Buaya

Hari Minggu kemarin ingin jalan-jalan, akan tetapi bingung mau kemana, meski sudah naik motor tetap saja belum ada tujuan. Akhirnya diputuskan ke Taman Buaya di daerah Serang Cibarusah. Informasi inipun seingat saya diperoleh dari websitenya pikiran-rakyat beberapa waktu yang lalu, jadi belum pernah kesana dan ingin mencari seperti apa sebenarnya Taman Buaya.Jauh menyusuri Jalan Cibarusah dari Cikarang Baru, dari perempatan EJIP lurus terus sesuai arah koasi 17 arah Cibarusah. Sepanjang jalan yang bergelombang, rupanya lalu lintas lumayan lancar walau sering juga lambat karena dump truk tanah yang lagi mengerjakan perumahan di daerah sekitar Cibarusah. Kalau kebetulan di belakang dump truk diusahakan segera menyalip daripada kena debu di belekangnya🙂. Sepanjang perjalanan sambil melihat kanan dan kiri ternyata lumayan banyak perumahan dibangun di sepanjang jalan Serang Cibarusah. Mulai Villa Mutiara Cikarang, Mega regency, Graha Bagasasi, KSB, dll. Berhubung belum pernah ke Taman Buaya, sampai Serang berusaha jalan pelan-pelan, dan tidak sengaja kelihatan juga, karena di depannya ada Patung Buaya sebelum KSB kalau dari Cikarang.

Atraksi Buaya

Atraksi Buaya

Sampai disana ternyata sepi, hanya tampak parkir motor saja. Ya maklum kebanyakan yang bermobil adalah gengsi kalau hanya melihat tempat wisata seperti ini, jauh dirasa lebih nyaman dan puas jika ke tempat wisata seperti tertempel di beberapa kaca mobil belakang yang berseliweran di jalan. Kalau dirasa memang ada benarnya, soalnya hanya mengandalkan buaya sebagai daya tarik. Setelah membayar parkir 2000, kemudian membeli tiket masuk seharga 8000 rupiah. Kebetulan masuk jam 11 siang, dan tertera kalau jam 11 siang dan jam 2 siang terdapat atraksi buaya. Akhirnya masuk belok kanan dimana tempat atraksi baru mulai. Tampak 3 orang berseragam mirip pencak silat sedang atraksi dengan ular kobra dan ular boa. Disitu diajarkan cara menangkap ular dan cara membebaskan lilitan ular. Berikutnya diselingi atraksi debus, dan kembali lagi (pemain sebelumnya) untuk atraksi buaya sebagai penutup acara. Walau terkesan ada tradisi klenik (menggunakan bunga, telur, dan bau kemenyan/dupa) toh pertunjukan masih enak ditonton. Rasa hormat pemain, dan kesederhanaan bermain menjadikan penonton tertawa dan menghormati dengan memberi tepuk tangan. Memang, jika dipikir debus dan atraksi buaya mungkin hanya menambah variasi hiburan di Taman Buaya supaya lebih menarik pengunjung. Bayangkan kalau dari sekian banyak buaya tersebut setiap hari makan daging, terus coba hitungkan harga daging berapa, walau mungkin bangkai, apakah menutup biaya operasional pemeliharaan. Apa harus membunuh buaya yang ada untuk dijual, diambil kulit, tangkur, untuk biaya operasional? Tentunya tidak diharapkan seperti itu, akan tetapi apakah membiarkan buaya-buaya itu mati? Ya coba dipikirkan sendiri saja wacana seperti ini.🙂


0 Responses to “Taman Buaya, sebagai alternatif wisata”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Didukung Oleh

Herbal Cikarang Pengolahan Data Busana Muslim Undangan Souvenir Cikarang

Man Behind this blog

Ganteng euy

Blogger Cikarang

Blogger Cikarang

Statistic Pengunjung

  • 143,273 hits

Trafik Pengunjung

Popularity

My Popularity (by popuri.us)

RSS VOA Islam News

My Messenger


%d bloggers like this: